Selasa, 29 Mei 2012

Jenis Manusia Purba

Penelitian tentang manusia purba atau fosil manusia sebenarnya merupakan bidang kajian bagian antropologi ragawi, yaitu paleoantropologi. Di Indonesia, fosil manusia purba sebagian besar ditemukan di Jawa. Temuan-temuan di Jawa memiliki arti penting karena berasal dari segala zaman atau lapisan Pleistosen sehingga tampak jelas perkembangan badaniah manusia tersebut.
Manusia pertama yang muncul di bumi ketika zaman Pleistosen dari jenis Pithecanthropus
sampai dengan Homo sapiens. Karena lamanya waktu, sisa-sisa manusia itu sudah membatu menjadi fosil. Manusia purba disebut manusia fosil. Berdasarkan temuannya manusia purba di Indonesia digolongkan menjadi tiga jenis, yaitu jenis Meganthropus, jenis
Pithecanthropus, dan jenis Homo.
Dari hasil penelitian dan penggalian, manusia purba di Indonesia ternyata banyak
ditemukan di lembah Sungai Bengawan Solo, lembah Sungai Brantas, serta daerah Wajak,
Tulungagung. Jadi, pada masa purba manusia hidup di sekitar sungai bahkan menjadi daerah
perkampungan sebab menyediakan kehidupan yang melimpah.
Untuk mengetahui keadaan manusia secara biologis di masa purba, kita perlu mengetahui
bagaimana dan di mana kedudukan manusia dalam alam dan hubungannya dengan yang lain.
Sistem yang dipergunakan dalam penggolongan makhluk hidup adalah sistem yang berdasarkan
evolusi. Evolusi biologis yang berlangsung berjuta tahun tidak meninggalkan bukti secara
lengkap dan jelas. Oleh karena itu, harus diadakan pilihan berbagai teori yang dikemukakan
banyak ahli.

Evolusi biologis bukanlah perubahan suatu organisme dari tahapan telur – lahir – dewasa
– tua – mati. Evolusi biologis adalah perubahan satu takson menjadi takson lain atau takson
lama berubah sedikit. Jadi, sudut pandang evolusi bukanlah individu, tetapi populasi.
Darwin pada abad ke-19 mengemukakan teori evolusi biologinya yang cukup terkenal.
Teori evolusi tersebut mencetuskan pola pikir baru, yaitu bahwa takson itu tidak statis,
melainkan dinamis, melalui masa yang panjang, dan semua makhluk hidup ini berkerabat.
Darwin dalam bukunya The Origin of Species mengemukakan teori bahwa spesies yang
hidup sekarang ini berasal dari spesies-spesies yang hidup di masa-masa yang silam dan terjadi
melalui seleksi alam. Salah satu teori yang banyak diterima adalah evolusi manusia dari
Australopithecus melalui Homo erectus ke Homo sapiens. Australopithecus yang berperan
dalam hal ini adalah Australopithecus africanus, kemudian melalui Australopithecus habilis
(disebut pula Homo habilis). Antara Homo erectus dan Homo sapiens terdapat Homo
neaderthalensis, lagi pula telah ada manusia yang lebih umum cirinya dari Neanderthal yang
mendekati jenis Homo sapiens. Jika kita membedakan manusia purba dengan Homo sapiens,
akan terlihat jelas bahwa:
1. rongga otak manusia purba lebih kecil daripada Homo sapiens,
2. tulang kening manusia purba menonjol ke depan,
3. tulang rahang bawah lurus ke belakang sehingga tak berdagu,
4. tulang rahang manusia purba lebih kuat dan besar, dan
5. manusia purba tidak bertempat tinggal tetap dan selalu berpindah-pindah.
Oleh karena itu, Homo sapiens dianggap sebagai jenis yang paling sempurna yang
menjadi nenek moyang manusia dan kemudian menyebar ke seluruh bumi kita ini.
Konsep dan Aktualita
Perbandingan tengkorak manusia purba, perhatikan besar rahang dan volume otaknya.

Australopithecus                  Pithecantropus                   Homo neaderthalensis            Cro-Magnon

Gambar 4.5 Perbandingan tengkorak manusia purba
Menurut pakar antropologi Prof. Dr. T. Jacob, manusia purba (manusia yang memfosil)
telah punah. Di Indonesia, fosil manusia purba banyak ditemukan di Jawa. Para tokoh peneliti
manusia purba, antara lain, Dokter Eugene Dubois yang meneliti di Trinil dan Ny. Selenka
yang banyak menemukan fosil hewan dan tumbuhan di zaman Pleistosen Tengah di Jawa.
Tokoh lain adalah C. Ter Haar, Oppenoorth, dan Von Koenigswald yang meneliti di daerah
Ngandong, Ngawi, Mojokerto, dan Sangiran, Sragen (Jawa Tengah).



Adapun fosil-fosil manusia purba yang ditemukan itu sebagai berikut.
1. Meganthropus
Meganthropus paleojavanicus adalah fosil yang pernah
ditemukan di Sangiran oleh Von Koenigswald pada tahun 1936
dan 1941, berupa bagian rahang bawah dan tiga buah gigi terdiri
atas gigi taring dan dua geraham. Makanan jenis manusia purba
ini adalah tumbuhan. Makhluk ini hidup kira-kira 2 juta hingga
1 juta tahun yang lalu. Meganthropus berasal dari lapisan
Pleistosen Bawah yang sampai sekarang belum ditemukan
perkakasnya.
Ciri dari Meganthropus palaeojavanicus adalah
a. memiliki tulang pipi yang tebal,
b. memiliki otot rahang yang kuat,
c. tidak memiliki dagu,
d. memiliki tonjolan belakang yang tajam,
e. memiliki tulang kening yang menonjol,
f. memiliki perawakan yang tegap,
g. memakan tumbuh-tumbuhan, dan
h hidup berkelompok dan berpindah-pindah.

2. Pithecanthropus
Pithecanthropus artinya manusia kera. Fosilnya banyak ditemukan di daerah Trinil
(Ngawi), Perning daerah Mojokerto, Sangiran (Sragen, Jawa Tengah), dan Kedungbrubus
(Madiun, Jawa Timur). Seorang peneliti manusia purba Tjokrohandojo bersama ahli
purbakala Duyfjes menemukan fosil tengkorak anak di lapisan Pucangan, yakni pada
lapisan Pleistosen Bawah di daerah Kepuhlagen, sebelah utara Perning daerah Mojokerto.
Mereka memberikan nama jenis Pithecanthropus mojokertensis, yang merupakan jenis
Pithecanthropus paling tua. Jenis Pithecanthropus memiliki ciri-ciri tubuh dan kehidupan
sebagai berikut.
a. Memiliki rahang bawah yang kuat.
b. Memiliki tulang pipi yang tebal.
c. Keningnya menonjol.
d. Tulang belakang menonjol dan tajam.
e. Tidak berdagu.
f. Perawakannya tegap, mempunyai tempat perlekatan otot tengkuk yang besar dan kuat.
g. Memakan jenis tumbuhan.
Jenis Pithecanthropus ini paling banyak jenisnya ditemukan di Indonesia.
Ada beberapa jenis Pithecanthropus yang diketahui, antara lain, sebagai berikut.
a. Pithecanthropus erectus (manusia kera berjalan tegak) adalah fosil yang paling
terkenal temuan Dr. Eugene Dubois tahun 1890, 1891, dan 1892 di Kedungbrubus
(Madiun) dan Trinil (Ngawi). Temuannya berupa rahang bawah, tempurung kepala,
tulang paha, serta geraham atas dan bawah. Berdasarkan penelitian para ahli, Pithecanthropus
erectus memiliki ciri tubuh sebagai berikut.
1) Berjalan tegak.
2) Volume otaknya melebihi 900 cc.
3) Berbadan tegap dengan alat pengunyah yang kuat.
4) Tinggi badannya sekitar 165 – 170 cm.
5) Berat badannya sekitar 100 kg.
6) Makanannya masih kasar dengan sedikit dikunyah.
7) Hidupnya diperkirakan satu juta sampai setengah juta tahun yang lalu.
Hasil temuan Pithecanthropus erectus ini oleh para ahli purbakala dianggap sebagai
temuan yang amat penting, yaitu sebagai revolusi temuan-temuan fosil manusia purba
yang sejenis. Jenis fosil Pithecanthropus erectus ini diyakini sebagai missing link,
yakni makhluk yang kedudukannya antara kera dan manusia. Penemuan ini
menggemparkan dunia ilmu pengetahuan sebab seakan-akan dapat membuktikan teori
yang dikemukakan oleh Charles Darwin dalam teori evolusinya. Darwin dalam
bukunya yang berjudul The Descent of Man (Asal Usul Manusia) menerapkan teori
berupa perkembangan binatang menuju manusia dan binatang yang paling mendekati
adalah kera. Hal ini diperkuat penemuan manusia Neanderthal di Jerman yang
menyerupai kera maupun manusia.
b. Pithecanthropus robustus, artinya manusia kera berahang besar. Fosilnya ditemukan
di Sangiran tahun 1939 oleh Weidenreich. Von Koenigswald menyebutnya dengan
nama Pithecanthropus mojokertensis, penemuannya pada lapisan Pleistosen Bawah
yang ditemukan di Mojokerto antara tahun 1936 – 1941. Pithecanthropus mojokertensis
artinya manusia kera dari Mojokerto. Fosilnya berupa tengkorak anak berumur 5 tahun.
Jenis ini memiliki ciri hidung lebar, tulang pipi kuat, tubuhnya tinggi, dan hidupnya
masih dari mengumpulkan makanan (food gathering). Berdasarkan banyaknya temuan
di lembah Sungai Bengawan Solo maka Dr. Von Koenigswald membagi lapisan
Diluvium lembah Sungai Bengawan Solo menjadi tiga.
1) Lapisan Jetis (Pleistosen Bawah) ditemukan jenis Pithecanthropus robustus.
2) Lapisan Trinil (Pleistosen Tengah) ditemukan jenis Pithecanthropus erectus.
3) Lapisan Ngandong (Pleistosen Atas) ditemukan jenis Homo soloensis.
c. Pithecanthropus dubuis (dubuis artinya meragukan), fosil ini ditemukan di Sangiran
pada tahun 1939 oleh Von Koenigswald yang berasal dari lapisan Pleistosen Bawah.
d. Pithecanthropus soloensis adalah manusia kera dari Solo yang ditemukan oleh Von
Koenigswald, Oppennoorth, dan Ter Haar pada tahun 1931 – 1933 di Ngandong, tepi
Sungai Bengawan Solo. Hasil temuannya ini memiliki peranan penting karena
menghasilkan satu seri tengkorak dan tulang kening.
a)        b)  
c)   d)
(a) Manusia Mojokerto (Pithecanthropus mojokertensis), (b) tengkorak dan tulang paha Manusia Trinil
(Pithecanthropus erectus); (c) tengkorak Manusia Trinil (Pithecanthropus erectus).

3. Homo
Homoartinya manusia, merupakan jenis manusia purba yang paling maju dibandingkan
yang lain. Ciri jenis manusia ini adalah
a. berat badan kira-kira 30 sampai 150 kg,
b. volume otaknya lebih dari 1.350 cc,
c. alatnya dari batu dan tulang,
d. berjalan tegak,
e. muka dan hidung lebar, dan
f. mulut masih menonjol.
Adapun temuan jenis Homo sebagai berikut.
a. Homo wajakensis (manusia dari Wajak)
Jenis ini ditemukan di Wajak, Tulungagung pada tahun 1889 ketika Von Rietschoten
menemukan beberapa bagian tengkorak. Temuan ini kemudian diselidiki oleh
Dr. Eugene Dubois yang kemudian disebut Homo wajakensis. Lapisan asalnya adalah
Pleistosen Atas, termasuk ras Australoid dan bernenek moyang Homo soloensis serta
menurunkan penduduk asli Australia. Oleh Von Koenigswald, Homo wajakensis
dimasukkan dalam Homo sapiens (manusia cerdas) sebab sudah mengenal upacara
penguburan.
b. Homo soloensis (manusia dari Solo)
Pada waktu ahli geologi Belanda, C. Ter Haar, menemukan lapisan tanah di
Ngandong (Ngawi Jawa Timur) bersama Ir. Oppenoorth tahun 1931 – 1932. Mereka
menemukan sebelas tengkorak fosil Homo soloensis di lapisan Pleistosen Atas yang
kemudian diselidiki oleh Von Koenigswald dan Weidenreich. Berdasarkan keadaannya,
jenis ini bukan lagi kera, tetapi sudah manusia.

c. Homo sapiens
Homo sapiens artinya manusia cerdas. Homo sapiens berasal dari zaman Holosen,
bentuk tubuhnya sudah menyerupai manusia sekarang. Mereka sudah menggunakan
akal dan memiliki sifat seperti yang dimiliki manusia sekarang. Kehidupan Homo
sapiens sederhana dan mereka masih mengembara.
Adapun ciri-cirinya adalah
1) volume otaknya antara 1.000 cc – 1.200 cc;
2) tinggi badan antara 130 – 210 m;
3) otot tengkuk mengalami penyusutan;
4) alat kunyah dan gigi mengalami penyusutan;
5) muka tidak menonjol ke depan;
6) berdiri dan berjalan tegak,
7) berdagu dan tulang rahangnya biasa, tidak sangat kuat.
Jenis Homo sapiens di dunia terdiri dari subspesies yang sampai sekarang dianggap
menurunkan berbagai manusia, yaitu sebagai berikut.
1) Ras Mongoloid, berciri kulit kuning, mata sipit, rambut lurus. Ras Mongoloid ini
menyebar ke Asia Timur, yakni Jepang, Cina, Korea, dan Asia Tenggara.
2) Ras Kaukasoid, merupakan ras yang berkulit putih, tinggi, rambut lurus, dan hidung
mancung. Ras ini penyebarannya ke Eropa, ada yang ke India Utara (ras Arya), ada
yang ke Yahudi (ras Semit), dan ada yang menyebar ke Arab, Turki, dan daerah Asia
Barat lainnya.
3) Ras Negroid, memiliki ciri kulit hitam, rambut keriting, bibir tebal. Penyebaran ras
ini ke Australia (ras Aborigin), ke Papua (ras Papua sebagai penduduk asli), dan ke
Afrika.

0 komentar:

Poskan Komentar